Sunday, September 10, 2017

Anak Anda Ingin Menjadi Seorang Atlet, Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan


Ada beberapa orang tua yang beranggapan, punya anak yang menjadi atlet profesional itu enak.
Selain sehat dan memiliki jiwa kompetitif yang baik, anak mampu menghasilkan uang setiap kali memenangkan pertandingan.

Ya, alasan itu ada benarnya juga. Tapi, apakah Anda sadar bahwa untuk menjadi atlet yang langganan juara itu ternyata tak semudah yang Anda bayangkan.

Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan, jika Anda atau anak Anda ingin menjadi atlet:

Anak Harus Menyukainya

Ya, iya, lah. Kan, anak yang akan menjalaninya, jadi anak harus cinta dengan olahraga itu.

Yakinkan Sekali Lagi
Apa Anda, terutama anak, sudah yakin dengan keputusan itu? Di usia anak yang masih sangat muda, mungkin sulit baginya menyadari hal-hal yang akan ia lakukan, jika ia ingin terjun secara serius di bidang olahraga.

Jadi, bantu ia mendapatkan gambaran apa yang harus ia lakukan sebagai atlet: jam latihan yang padat, makan tidak boleh sembarangan, waktu bermain sedikit (karena sudah lelah berlatih dan membagi waktu dengan sekolah), target-target yang harus dicapai setiap hari, bulan, dan tahun, dan sebagainya.

Persiapkan Diri

Sebagai orang tua, Anda juga sudah harus siap dengan biaya kebutuhan latihan anak.
Begitu juga memersiapkan mental saat menghadapi anak cedera saat berlatih, kalah saat bertanding, atau ketika anak malas latihan.
Anda juga harus pandai mengatur jadwal antara anak berlatih dan sekolah, serta membagi waktu Anda dalam mengurus anak dan rumah tangga.

Sedangkan untuk anak, ia tidak hanya harus menyiapkan diri secara fisik, tetapi juga mental yang kuat.

“Anak akan masuk jalur kompetitif, jadi ia harus memiliki sikap tidak mau kalah. Karena tujuan ia ikut pertandingan, kan, pastinya menang. Sikap kompetitif itu, selain bertujuan mengalahkan lawan, tetapi juga dirinya sendiri, yakni bagaimana mengalahkan rasa lelah dan sakit saat berlatih dan bertanding. Jadi sisi psikologisnya juga harus diperhatikan orang tua,” ujar dr. Michael Triangto, dokter kesehatan olahraga dari Rumah Sakit Mitra Keluarga Kemayoran, Jakarta.

Buat Target

Target tidak hanya di bobot latihan, tetapi juga pertandingan-pertandingan yang harus diikuti.
Misalnya, setelah anak memenangkan kejuaraan tingkat regional tahun ini, tahun depan ia harus ikut kompetisi di tingkat nasional, dan seterusnya.

Sesuaikan Kemampuan

Jika anak tidak bisa mencapai target, jangan memaksa ia meneruskan jalur ini. Lalu ke depannya bagaimana?

Ingat, masa depan anak masih panjang. Ada baiknya anak melakukan hal lain yang lebih berguna bagi masa depannya.

“Pendidikan akademiknya enggak terlalu bagus. Nah, kalau anak juga tidak berprestasi di bidang olahraga, bagaimana anak bisa hidup di masa depan? Jadi orang tua harus menyiakan plan B, C, bahkan sampai Z, jika anak tidak mampu mencapai target,” terang dr. Michael.

Tidak Selalu Sehat

Dr. Michael menjelaskan fakta mengejutkan bahwa tubuh seorang atlet tidak selalu sehat.

Di luar dari penyakit genetik, seseorang yang berolahraga di jalur kompetitif biasanya menjadi tidak sehat karena beban latihan yang tinggi. Dan tidak jarang, bobotnya di luar kemampuan si atlet, sehingga memungkinkan mereka mengalami cedera, depresi, dan lain-lain.

Pembentukan fisik yang tidak wajar pun bisa dialami atlet. Misalnya, jangan harap atlet angkat besi bisa mendapatkan tubuh tinggi, atau atlet maraton bertubuh kekar.

Jangan Paksa   

Perhatikan setiap perubahan pada perilaku anak.

Ketika anak sudah malas latihan, trauma, dan patah semangat, jangan abaikan.

Diskusikan ini dengan anak, dan tanyakan apakah ia mau melanjutkan ini. Jangan malah sebaliknya, menyalahkan dan memaksa anak untuk meneruskan jalur. Itu tidak akan membuatnya berhasil

Lomba Penulisan Artikel Ilmiah Sekolah Dasar Tahun 2017

“Meningkatkan Budaya Mutu Pendidikan Melalui Lomba Penulisan Artikel Ilmiah Sekolah Dasar”

Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Lomba Penulisan Artikel Ilmiah yang terdiri dari lomba menulis bagi siswa SD/MI kelas III-VI tahun pelajaran 2017/2018, Lomba menulis artikel ilmiah populer dan lomba menulis feature sekolah dasar bagi peserta semua kalangan, tidak terbatas usia dan profesi. Adapun tema dan subtema untuk masing-masing kategori adalah sebagai berikut:

Tema “Sekolahku”

Lomba menulis bagi siswa SD/MI dengan subtema:

  1. Sekolahku Menyenangkan
  2. Aku dan Buku
  3. Guruku Idolaku
  4. Aku Suka Belajar
  5. Meneliti itu Asyik
  6. Berkesenian di Sekolahku yang Menyenangkan
  7. Berolahraga di Sekolahku yang Menyenangkan
  8. Kebun Sekolahku
  9. Belajar Bahasa Daerah Menyenangkan di Sekolahku

Tema “Strategi Peningkatan Mutu Sekolah Dasar”

Lomba menulis artikel ilmiah populer dengan subtema:

  1. Pengelolaan Sanitasi di Sekolah Dasar
  2. Menumbuhkan Budaya Baca di Sekolah Dasar
  3. Inovasi Tata Kelola Sekolah di Sekolah Dasar Negeri
  4. Optimalisasi Pembelajaran e-learning di Sekolah Dasar
  5. Revitalisasi Komite Sekolah di Sekolah Dasar
  6. Strategi Mencegah dan Menanggulangi Tinggal Kelas dan Putus Sekolah di Sekolah Dasar
  7. Teknik Pembelajaran Efektif di Sekolah Dasar
  8. Menguatkan Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah Dasar Negeri
  9. Menguatkan Pembelajaran di Daerah 3T (Terdepan Terluar dan Tertinggal)
  10. Peran Pemerintah Daerah dalam Peningkatan Mutu Sekolah Dasar
  11. Penggunaan Gadget yang Baik Bagi Siswa SD

Lomba menulis feature sekolah dasar dengan subtema:

  1. Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar
  2. Menjadikan Sekolah Dasar Negeri Sebagai Sekolah Rujukan bagi Sekolah Dasar Lain
  3. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di Sekolah Dasar
  4. Melaksanakan Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar
  5. Implementasi Gerakan Literasi di Sekolah Dasar

Ketentuan umum dan Pengiriman naskah dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Saturday, September 9, 2017

Soal dan Kisi-kisi Soal UTS Kelas 4 Kurikulum 2013


Berikut ini kami share contoh Ulangan Tengah Semester [UTS] Kelas 4 Kurikulum 2013 Semester 1

Soal UTS Kelas 4 Tema 1 Unduh
Soal UTS Kelas 4 Tema 2 Unduh
Soal UTS PAI BP Kelas 4 Unduh

Kisi-kisi Soal UTS Kelas 4 Tema 1 Unduh
Kisi-kisi Soal UTS Kelas 4 Tema 2 Unduh
Kisi-kisi Soal UTS PAI BP Kelas 4 Unduh

Soal dan Kisi-kisi Soal UTS Kelas 5 Kurikulum 2013


Berikut ini kami share contoh Ulangan Tengah Semester [UTS] Kelas 5 Kurikulum 2013 Semester 1

Soal UTS Kelas 5 Tema 1 Unduh
Soal UTS Kelas 5 Tema 2 Unduh
Soal UTS PAI BP Kelas 5 Unduh

Kisi-kisi Soal UTS Kelas 5 Tema 1 Unduh
Kisi-kisi Soal UTS Kelas 5 Tema 2 Unduh
Kisi-kisi Soal UTS PAI BP Kelas 5 Unduh

Soal dan Kisi-kisi Soal UTS Kelas 2 Kurikulum 2013


Berikut ini kami share contoh Ulangan Tengah Semester [UTS] Kelas 1 Kurikulum 2013 Semester 1

Soal UTS Kelas 2 Tema 1 Unduh
Soal UTS Kelas 2 Tema 2 Unduh
Soal UTS PAI BP Kelas 1 Unduh

Kisi-kisi Soal UTS Kelas 2 Tema 1 Unduh
Kisi-kisi Soal UTS Kelas 2 Tema 2 Unduh
Kisi-kisi Soal UTS PAI BP Kelas 2 Unduh

Soal dan Kisi-kisi Soal UTS Kelas 1 Kurikulum 2013


Berikut ini kami share contoh Ulangan Tengah Semester [UTS] Kelas 1 Kurikulum 2013 Semester 1

Soal UTS Kelas 1 Tema 1 Unduh
Soal UTS Kelas 1 Tema 2 Unduh
Soal UTS PAI BP Kelas 1 Unduh

Kisi-kisi Soal UTS Kelas 1 Tema 1 Unduh
Kisi-kisi Soal UTS Kelas 1 Tema 2 Unduh
Kisi-kisi Soal UTS PAI BP Kelas 1 Unduh

Ingin anak berhasil menggapai cita-cita, lakukan 4 hal berikut.


Setiap orang tua ingin anaknya berhasil meraih impian dan cita-cita. Tapi sudahkah Anda melakukan tugas Anda untuk mendukungnya? Ada peran penting dari orang tua sebagai support system bagi anak. Antarkan si kecil ke gerbang cita-citanya dengan melakukan beberapa hal ini:

Temani anak berjuang

Anak Anda mungkin pernah merasa ingin menyerah pada hal-hal yang sedang dilakukannya. Misalnya, “Aku nggak bisa soal matematika ini!” Atau ia mengatakan, “Aku ini payah kalau bermain bola.”

Untuk mencegah anak berkesimpulan seperti itu, cobalah ubah perspektifnya. Cobalah bingkai ulang pemikirannya menjadi lebih positif dengan mengatakan hal berikut, “Sekarang kamu belum bisa mengerjakannya, tapi nanti pasti bisa.” Atau, “Semua olahraga baru memang sulit dipelajari awalnya.”

Dan, biarkan anak tahu bahwa bukan dia satu-satunya yang frustasi, karena teman-temannya yang lain pasti mengalami hal ini juga. Supaya ia tetap optimis, Anda boleh membantunya mengingat kembali tentang keberhasilannya yang lalu, misalnya, “Ingat, kan, dulu kamu sama sekali tidak bisa berenang, Tapi lihat sekarang, kamu berenang seperti ikan.”

Tetaplah realistis

Saat anak sedang sedih, Anda mungkin begitu ingin menghibur anak dengan kata-kata yang manis dan bisa membuat anak kembali ceria. Misal ketika anak baru saja merusakkan mainannya secara tidak sengaja, Anda mungkin ingin berkata “Tenang, nanti dibelikan lagi sama papa mainan yang baru.”

Padahal, bisa jadi kata-kata yang Anda ucapkan itu mengandung harapan palsu. Tahan diri Anda. Lebih baik Anda katakan pada anak, “Ya, Bunda tahu kamu tidak sengaja menjatuhkannya. Sekarang mainan kamu rusak, ya memang itulah risikonya kalau kita tidak hati-hati.”

Ironisnya, meyakinkan anak bahwa segalanya akan baik-baik saja justru malah akan membawa dampak yang sebaliknya. Rasa optimis yang sesungguhnya membutuhkan pemikiran yang realistis, tak sekadar pemikiran yang positif.

Memberi contoh

Orang tua merupakan sosok yang ditemui anak setiap hari di rumah. Sikap dan sifat anak kebanyakan merupakan cerminan dari orang tuanya. Itu sebabnya, orang tua harus menunjukkan sikap optimis di depan anak-anaknya, agar anak bisa meniru dan memiliki rasa percaya diri. Jadilah orang tua yang patut dicontoh oleh anak.

Dan yang paling penting, bentuklah lingkungan yang memungkinkan anak Anda dapat tumbuh menjadi individu yang percaya diri.

Tunggu sebelum beraksi

Ketika melihat anak Anda diejek, apa reaksi Anda? Apakah Anda akan langsung mendatangi anak yang mengejek dan membela anak Anda? Tak perlu. Tak perlu terlalu sering membantu anak dalam memecahkan suatu masalah yang sedang ia hadapi.

Yang perlu Anda lakukan adalah mengatakan pada anak bahwa Anda percaya ia mampu menyelesaikan sendiri masalahnya. Lihat saja, setelah Anda mengatakan hal ini, sangat mungkin anak akan merasa lebih berani membela dirinya sendiri ketika ia diejek oleh temannya. “Aku tidak seperti yang kamu katakan!”

Ketika anak kesulitan menemukan jawaban PR atau menempatkan satu keping potongan puzzle, sangatlah mudah bagi Anda untuk mengintervensi dan membantu anak menyelesaikan masalahnya.

Tapi tahan diri. Membiarkan anak menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan Anda akan meningkatkan rasa bangga atas pencapaiannya, serta membuatnya lebih optimis mengenai apa yang bisa dilakukannya di masa mendatang.

Download Kisi-Kisi USBN SMA MA TP 2017/2018

Berikut ini kami berikan kisi kisi USBN SMA MA TP 2017/2018 yang kami dapatkan dari bsnp-indonesia.org, silakan didownload. Kisi-kisi USBN S...